KELAS PEKERJA – DURI.

Rabu 23 maret 2017, menginjakkan kaki kembali pulang ke kampung halaman. Tempat dimana tanggis penah pecah saat salah satu dari sekian banyak anak kandung “Minyak Bumi Tuah Negeri” pergi menempa diri. Halo apakabar Duri, sehat?. Biar saja tulisan ini terbang entah kemana dan sekiranya ditemukan oleh siapa saja yang sudi membacanya, ini semacam gelisah yang berjejal di kepala dan tak tau akan kemana melepaskan muntahannya. Gerutu tetangga soal sulitnya lapangan pekerjaan, sepinya omset penjualan dan rumah-rumah sewa yang mulai kosong sejak dua tahun terakhir menjadi keresahan masyarakat yang umum. Selain itu ditambah lagi dengan meningkatnya pemberitaan berbagai permasalahan seperti maraknya tindak kriminalitas, narkoba, pembunuhan, jambret, penculikan anak, rumah-rumah kemalingan, dan gadis-gadis bunting yang terpaksa nikah muda. Tapi tetap saja Duri selalu punya alasan untuk dirindukan oleh siapapun yang pernah tinggal dan dibesarkan di Kota ini.

Aku baru saja menyelesaikan bacaan ku, sebuah buku berjudul Kondisi Kelas Pekerja Inggris” yang ditulis Friederich Engels, seorang Jerman. Agak aneh memang, ada seorang Jerman yang berbicara mengenai kondisi kelas pekerja Inggris, penulisnya dimana objek tulisannya dimana. Tapi Engels tak menulis seperti cara ku akan menulis tulisan ini, aku hanya menggunakan data rilisan badan pusat statistik. Engels tak percaya hal demikian, ia tak percaya dengan angka-angka statistik yang menurutnya tidak mencerminkan realitas sosial yang sesungguhnya. Berkaca dari dua revolusi besar yang dikomandoi oleh kelas pekerja di Inggris dan Prancis telah berpengaruh membentuk alam pikirannya, Engels memilih hidup bersama kelas pekerja dan berupaya memperbaiki pola gerakan kelas pekerja dari ketertindasan sistem kerja industrial saat itu. 1844, saat buruh-buruh hanya mampu membeli bahan makanan sisa, pakaian berbahan karung goni, rumah sewa dengan satu kamar yang ditinggali dua sampai tiga keluarga didalamnya, serta kerusakan moral generasi muda akibat kemiskinan yang mereka hadapi.

Sejauh ini menurut ku Duri dan kondisi kelas pekerjanya belum, dan tak akan pernah sampai merasakan kondisi yang sedemikian pahit sebab industrialisasi baru dimulai pasca kemerdekaan dengan berkembangnya persekongkolan kapitalisme nasional dan kapitalisme global, antara kepentingan pemerintah dan kepentingan perusahan-perusahaan multi-nasional. Tentunya akan sulit apabila membayangkan mencoba menerapkan metode berjuang yang dicetuskan Engels di Indonesia dan terutama di Duri walaupun pada prinsipinya kelas pekerja dimanapun, ia tetap berada dalam kontradiksi yang sama atas sistem produksi yakni kepemilikan modal dan distribusi hasil produksi, namun sistem Kapitalisme tak akan pernah menghendaki kelas pekerja bersatu akan diupayakan memodifikasi kesadaran kelas pekerja dalam ketertindasan yang berbeda-beda. Sayang, Engels tidak hidup di era modal industrial dipegang oleh banyak pihak, relasi kuasa berantai semakin panjang. “Engels; laut mewarisi abu mu. Kelas pekerja di seluruh dunia mewarisi semangat mu, bersatulah!.” Baiklah, ku teruskan tulisan ku, semoga bisa seminimalnya menggambarkan resah akibat kondisi kelas pekerja yang dulu hidup dan menghidupi Kota.

Pembangunan Bidang Industri Kabupaten Bengkalis Tahun 2011-2013.

Pemaparan data dalam tulisan ini hanya berusaha melihat posisi Kecamatan Mandau dalam pencapaian pembangunan bidang industri Kabupaten Bengkalis periode 2011-2013.

Untitled
BPS Bengkalis: Kabupaten Bengkalis Dalam Angka 2014.

Setelah Kecamatan Bengkalis yang memiliki 1.540 perusahaan, Kecamatan Mandau berada di posisi kedua dengan 915 perusahaan dari total perusahaan industri di Kabupaten Bengkalis yang mencapai 4.591 perusahaan pada tahun 2011. Namun demikian dalam aspek nilai investasi, Kecamatan Mandau masih memiliki nilai investasi tertinggi yaitu sebesar 18,83 milyar rupiah. Sedangkan Kecamatan Bengkalis hanya memiliki nilai investasi sebesar 8,05 milyar dari total nilai investasi industri Kabupaten Bengkalis yang mencapai 36,24 milyar rupiah.

Tampaknya pemerintah Kabupaten Bengkalis pada tahun 2012 yang pada saat itu dibawah kepemimpinan Bupati Herliyan Saleh meletakan fokus pembangunan bidang perindustrian di Kecamatan Bengkalis. Hal tersebut ditunjukan dengan peningkatan jumlah perusahaan industri di Kecamatan Bengkalis yang mencapai 1.610 perusahaan dengan nilai investasi sebesar 8,61 milyar rupiah. Sedangkan Kecamatan Mandau mengalami penurunan nilai investasi dari tahun sebelumnya menjadi 16,23 milyar rupiah yang dikelola oleh 960 perusahaan. Meskipun nilai investasi Kecamatan Bengkalis tidak sebesar Kecamatan Mandau yang fokus kepengelolaan industri migas, boleh dikatakan kondisi pertumbuhan ekonomi Kecamatan bengkalis semakin membaik karena pemerintah berupaya meningkatkan industrialisasi non migas di daerah pesisir. Melalui pengelolaan pelabuhan dan potensi perikanan di Kecamatan Bengkalis sehingga mampu menyerap 1.327 tenaga kerja dari total tenaga kerja Kabupaten Bengkalis yang mencapai 8.449 pada tahun 2012.

Pada tahun 2013 jumlah perusahaan industri di Kabupaten Bengkalis tercatat sebanyak 4.871 perusahaan dengan nilai investasi 28,26 milyar rupiah. Jumlah terbesar dari persebaran investasi tersebut masih berada di Kecamatan Mandau dengan nilai investasi 7,00 milyar rupiah yang dikelola oleh 1.365 perusahaan. Sedangkan jumlah terkecil berada di Kecamatan Rupat Utara dengan nilai investasi 1,07 milyar rupiah yang dikelola oleh 301 perusahaan.

Kita bisa melihat bahwa terjadi kejanggalan pada pembangunan industri di Kabupaten Bengkalis sepanjang 2011 hingga 2013, terutama di Kecamatan Mandau yakni berkaitan dengan meningkatnya jumlah perusahaan seiring dengan menurunya nilai investasi di bidang industri. Bagi pemerintah saat itu mungkin tidak ada masalah selagi meningkatnya jumlah perusahaan juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Namun seharusnya kondisi tersebut harus diantisipasi oleh pemerintah karena yang akan merasakan dampaknya adalah masyarakat terutama kelas pekerja migas. Bagaimana mungkin sistem produksi akan berjalan dengan sehat apabila banyak perusahan yang memiliki banyak karyawan hanya mengerjakan sedikit pekerjaan. Bagi sistem perusahaan yang mengedepankan profit tentunya kondisi tersebut adalah kerugian, pepatah bilang “besar pasak dari pada tiang”.

Selain karena harga minyak dunia yang jatuh dan mempengaruhi pendapatan perusahaan seperti Chevron. Produksi minyak bumi di duri juga terus menurun secara jumlah dan kualitas, hal ini tidak terlepas dari faktor usia sumur minyak yang sudah relatif tua. Berdasarkan data lifting minyak Kementerian ESDM, pada tahun 2013 lifting minyak di Kabupaten Bengkalis sebesar 65,81 juta barel atau menurun sebesar 8,93% dari lifting tahun 2012 yang tercatat sebesar 72,26 juta barel. Dampak yang dirasakan masyarakat tentunya sangat besar, mulai dari tunggakan pembayaran gaji sampai dengan PHK. Hal ini dibuktikan oleh Chevron Indonesia yang melakukan PHK di Duri secara besar-besaran pada pertengahan tahun 2016, diilakukan per 1 Mei, saat Hari Buruh”. PHK yang dilakukan oleh Chevron ini diperkirakan telah merumahkan ribuan karyawan dan diklaim sebagai kondisi terburuk karena setelahnya banyak orang yang memutuskan mencabut status kependudukannya dari Kecamatan Mandau.

Agar tidak patah hati setelah merangkum semua ironi, ternyata pemerintah masih masih punya prestasi dan harus diapresiasi. Dari 7 Kecamatan di Kabupaten Bengkalis, Kecamatan Mandau masih mempunyai nilai investasi produksi terbesar dengan nilai investasi mencapai 7,00 milyar rupiah pada tahun 2013. Sedangkan dari 11 Kabupaten/Kota di Provinsi Riau, Kabupaten Bengkalis masih mempunyai PDRB terbesar dengan nilai 112,782 triliun rupiah atau 21,60% total PDRB Riau tahun 2013. Anggap ini kenang-kenangan untuk pak Herliyan Saleh yang kemudian dikalahkan oleh Amril Mukminin dengan 99, 213 suara pada pemilu Bupati Bengkalis tahun 2015 lalu. Lantas setelah dua tahun ini apakabar pak Amril? Sehat?

Rilis data “Statistik Kecamatan Mandau 2016” mencatat jumlah penduduk Kecamatan Mandau tahun 2015 sebanyak 239.513 jiwa, meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah sebanyak 236.032 jiwa (BPS Bengkalis, 2016). Sedangkan jumlah kelas pekerjanya tidak lagi terdata, mungkin lenyap atau dianggap the other”. Jika dulu kelas pekerja yang hidup dan menghidupi Kota. Namun kini Kota dan kelas pekerja sama saja, tidak lagi berpenghidupan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s