INEQUALITY FOR ALL – 99% VS 1% : REFLEKSI MAY DAY 2017

Hari ini 1 mei 2017, 131 tahun sejak pertama kali dideklarasikan sebagai hari buruh internasional. Harinya kaum buruh, kaum pekerja, kaum penerima upah di seluruh dunia. Bermula dari berkembangnya kapitalisme abad 18 yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, ekonomi-politik secara drastis terutama mengenai kondisi kelas pekerja ditingkat pabrik yang mengalami tenakan paling kuat. Kondisi yang akhirnya melahirkan perlawanan dari kelas pekerja melalui kongres pertama pada september 1866 di Jenewa, Swiss. Kongres dihadiri oleh elemen organisasi pekerja dari seluruh dunia, menuntut reduksi jam kerja 8 jam sehari.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memperdebatkan semangat revolusioner dari isme-isme yang menyertai sejarah panjang perjuangan kelas pekerja sejak kongres kedua 1 mei 1886. 1 mei adalah hari berkabung bagi kaum pekerja, hari penanda ratusan massa aksi tereksekusi mati, hari penanda ketidakadilan ekonomi masih menindas para pekerja. Tulisan ini merupakan refleksi yang berangkat dari film berjudul inequality for all yang memvisualisasikan demonstrasi We are the 99% – Occupy Wall Street (OWS). Demonstrasi terbesar yang dilakukan oleh kelas pekerja abad 20 menuntut hak atas upah layak dan berkeadilan.

Inequality for all adalah film yang terinspirasi dari buku berjudul aftershock – the next enonomic and america’s future karya Robert Reich. Film ini mencoba membuka mata seluruh orang di dunia dan terutama di AS bahwa tidak ada yang dapat terbebas dari kesenjangan ekonomi sebagai dampak negatif dari kapitalisme. Robert Reich adalah seorang ekonom dan pengajar di Hardvard University serta pernah menjadi Sekretaris Tenaga Kerja Amerika Serikat di era presiden Bill Clinton. Meskipun kemudian Reich harus di copot oleh Bill Clinton karena terdapat perbedaan yang sangat mendasar dalam memandang pembangunan ekonomi AS. Film Inequality for all didedikasikan untuk gerakan 99% vs 1% yang menuntut kembalinya keberpihakan negara untuk memperhatikan upah minimum pekerja di AS setelah krisis ekonomi tahun 2008.

Inequality adalah ketidakadilan yang terjadi akibat adanya kesenjangan pendapatan antara pemilik modal yang terus meningkat dan pendapatan para pekerja (midle class) yang semakin merosot. Sehingga dalam konteks politik, sistem ekonomi yang dibangun oleh negara mengalami kegagalan karena telah dikuasai oleh segelinir orang saja. Robert Reich sejak lama telah meprediksikan dan mengingatkan pemerintah AS bahwa krisis ekonomi akan terjadi apabila kebijakan ekonomi yang terlalu fokus dengan investasi indutrialisasi luar negeri tidak dihentikan. Menurut Reich kebijakan ekonomi pemerintah AS tidak seperti Jerman dan Jepang yang telah menyadari lebih awal bahwa obsesi mengejar pertumbuhan ekonomi global hanya menyengsarakan rakyat. Jerman dan Jepang lebih memperhatikan alokasi keuangan negara untuk bidang pendidikan dan industri dalam negeri.

jgjdj

Saat krisis ekonomi 2008 terjadi, Robert Reich bertemu dengan Emmanuel Saez dan Thomas Piketty yang juga menemukan data ekonomi berbeda. Emmanuel Saez dan Thomas Piketty mengumpulkan data ekonomi melalui catatan pajak AS sejak pertama kali pajak dilembagakan tahun 1913. Mereka menemukan bahwa pola kesenjangan yang terjadi di AS selama ini merupakan hal yang sama dan kembali terulang yakni pada periode tahun 1928 dan 2007. Pada kedua periode tersebut orang-orang yang berada yang di puncak 1% memiliki 23% dari seluruh penghasilan di AS. Kondisi tersebut menyebabkan sektor keuangan AS membengkak dan menciptakan spekulan hingga menyebabkan ekonomi AS tidak stabil. Disisi lain kehidupan kelas menengah (midle class) menjadi tersendat, karena mereka harus mencari pinjaman uang untuk mempertahankan standar hidup.

Pada tahun 2010, pendapatan pertahun kelas pekerja di AS mencapai $33,751 sedangkan pendapatan orang terkaya mencapai $1.101.098. Jumlah pendapatan tersebut menunjukan bahwa kelompok terkaya menjadi semakin kaya dan kelompok termiskin menjadi semakin miskin. Karena apabila dilihat kebelakang pada tahun 1978 para pekerja di AS masih mampu memiliki pendapatan pertahun mencapai $48,302 yang berbanding dengan pendapatan pertahun kelompok terkaya mencapai $396,682. Akibat dari kesenjangan pendapatan yang semakin parah tersebut, AS pada tahun 2012 menempati peringkat 64 sebagai negara dengan distribusi pendapatan dan kekayaan paling tidak merata. Hal tersebut dikarenakan AS memiliki 400 orang terkaya yang jumlah kekayaan lebih dari kekayaan 150 juta penduduk AS.

jhfjh

Melalui analisis data yang mereka publikasikan maka lahirlah demonstrasi We are the 99% – Occupy Wall Street (OWS) di Zuccotti Park distrik keuangan Wall Street, New York City yang dimulai sejak 17 September 2011. Setelah demonstrasi tersebut mereka sempat dituding sebagai ekonom sosialis oleh pemerintah AS, karena berupaya menyulut percik api revolusi melalui pertentangan kelas antara kelas pekerja dan negara. Namun menurut Haryo Aswicahyono bahwa pada dasarnya mereka bukanlah ekonom sosialis bermazhab marxisme, mereka tetaplah ekonom liberal dengan mazhab ekonomi mainstream yang mengkritik kegagalan kapitalisme itu sendiri. (Freedom Institute, 16 Juli 2014).

Menurut Reich yang menjadi masalah bukanlah tentang keberadaan orang-orang kaya yang menghabiskan terlalu banyak uang dari yang mereka peroleh, namun yang menjadi masalah adalah mereka yang menjadi kelompok 1% tersebut ternyata tidak mengeluarkan uang lebih dari apa yang mereka peroleh. Bahkan telah membentuk paradoks karena mereka tidak melakukan kegiatan ekonomi. Mereka yang memiliki penghasilan $10.000.000 tidak pernah menghabiskan $10.000.000, mereka menyimpannya. Mereka menjadi spekulan dari pasar modal dunia dan menguasai banyak bidang. Para pengusaha nasional yang kaya raya di AS sering mengklaim bahwa dirinya adalah pencipta lapangan kerja, menganggap bahwa mereka adalah pusat dari tata surya yang membentuk orbit untuk planet lain bisa bergerak. Namun pada kenyataanya klaim tersebut tidak pernah bisa menggambarkan bagaimana perekonomian berjalan, klaim para pengusaha tersebut hanya ditujukan untuk status, hak istimewa dan kekuasaan. pada kenyataanya yang menjadi pusat dari tata surya dari sebuah sistem ekonomi adalah kelas menengah (midle class) yang merupakan kelas pekerja.

Robert Reich berpendapat bahwa ekonomi dapat dikatakan stabil apabila kelas menengah kuat, kelas menengah-lah yang membuat perekonomian berjalan. Karena mereka mampu menghabiskan 70% kebutuhan konsumen nasional. Saat ekonomi negara tidak stabil, kelas menengah-lah yang berjuang dalam kemunduran tersebut untuk bisa bertahan. Jadi jelas bahwa tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan ekonomi dalam jangka panjang tanpa adanya kelas menengah (midle class) yang dinamis dan berkembang. Maka setelah krisis ekonomi AS terjadi muncul ide untuk mengganti sistem trickle-down effect economics dengan sistem baru yang disebut sebagai middle-out economics. Pada sistem middle-out economics para pengusaha sebagai pemodal harus berlaku pro-bisnis atau membantu masyarakat kelas menengah untuk tumbuh dan berkembang.

Reich juga berpendapat bahwa dimanapun tidak ada pasar bebas yang sempurna dan sejati, untuk membangun pasar bebas ternyata masih diperlukan peran pemerintah untuk membuat dan menetapkan aturan terhadap fungsi pasar. Kesenjangan ekonomi menjadi semakin parah juga diakibatkan oleh berkembangnya globalisasi dan teknologi karena banyak perusahaan non buruh dengan tenaga kerja mesin yang mulai beroprasi di semua sektor ekonomi. Oleh sebab itu Reich tidak pernah memperdebatkan pandangan ideologi dan afiliasi politik siapapun, apakah dia seorang republikan, demokratik, sosdem, libertarian, yang menjadi tuntutan utamanya dalam menanggulangi kesenjangan dan krisis ekonomi adalah kembalinya negara untuk melakukan proteksi dalam negeri memperjuangkan upah layak dan berkeadilan bagi kelas pekerja.

Indonesia – May Day 2017

Kini saatnya kita mencoba melihat kondisi Indonesia yang kondisi kesenjangan ekonominya juga sangat memprihatinkan, dimana ada empat orang terkaya yang memiliki kekayaan setara dengan kekayaan 100 juta orang termiskin. Kondisi ini menegaskan bahwa indonesia adalah negara dengan ketimpangan ekonomi tertinggi. Jumlah miliarder di Indonesia meningkat dari 1 orang di tahun 2002 menjadi 20 orang pada tahun 2016. Salah satunya adalah seperti Budi dan Michael Hartono bersaudara yang menguasai aset senilai $25 miliar atau Rp.333,8 triliun. Kekayaan mereka melebihi dari kekayaan 250 juta orang paling miskin di Indonesia yang mencapai $24 miliar atau Rp.320,3 triliun (Oxfam, 2017).

Meskipun pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat hingga 5% antara tahun 2000-2016 namun pengurangan angka kemiskinan semakin melambat. Terdapat 20 juta penduduk yang masih berpendapatan di bawah $1,9 atau setara dengan Rp.25.300 per hari. Jika standar kemiskinan dinaikkan menjadi $3,1 atau setara dengan Rp. 41.300 per hari maka akan ada 93 juta atau 36% penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan (World Bank). Dimasa kampanyenya Jokowi pernah berjanji akan meningkatkan koefisien GINI lebih dari 0,43 namun ternyata koefisien GINI Indonesia terus menurun dari 0,402 pada bulan September 2015 menjadi 0,397 pada bulan Maret 2016 (BPS, 2016). Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya jumlah hutang negara yang mencapai Rp4.000 triliun, dengan asumsi setiap penduduk termasuk bayi yang baru lahir harus menanggung hutang tersebut sekitar Rp.16 juta.

Kondisi yang sedemikian pelik ini sudah selayaknya disikapi oleh pemerintah dengan mencoba merubah orientasi pembangunan ekonomi kearah yang lebih berkeadilan dengan mengedepankan kesejahteraan para pekerja. Membatalkan sistem kerja kontrak dan Outsourching serta mencabut PP No.78 Tahun 2015 tentang pengupahan yang sangat merugikan pekerja. Apa yang sedang terjadi saat ini jelas tidak berdampak positif untuk mendukung berkembangnya kelas pekerja (midle class) menjadi lebih dinamis untuk menyokong stabilitas ekonomi Indonesia. Upah rata-rata per bulan pekerja di Indonesia hanya $174, aangkan ini di bawah Vietnam $181 per bulan, Malaysia US$ 506 per bulan, Filipina US$ 206 per bulan dan Thailand US$ 357 per bulan. Negara seharusnya tidak lagi bergantung kepada kapitalisme global yang dengan jelas telah bangkrut, dan juga sudah selayaknya pemerintah melakukan penindakan terhadap miliarder-miliarder yang tidak memiliki sumbangsih dan komitmen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat tersebut. Panjang umur perjuangan, semoga hari-hari esok tetap memiliki tekanan. Selamat Hari Buruh, MAY DAY IS NOT HOLIDAY!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s