PERIODE SPIONASE PATAH HATI. ( c e r p e n )

ilustrasi-mitos-dan-realitas-dalam-spionase

Periode Pencarian …

September 2013, di dalam kantin kampus Robert sedang sibuk menatap layar laptopnya. Sebagai seorang mahasiswa rantau Robert berjanji akan mengambil semua kesempatan belajar, baik yang disuguhkan dosen di ruang kelas maupun di tempat lain, di jalanan kota, taman kota, warung kopi, kantor-kantor LSM, hingga gedung-gedung para penguasa. Bagi Robert semua waktunya hanya akan jadi sia-sia jika dibiskan di kamar kost.

Hari ini adalah hari pertama perkuliahan dan semua kegiatan kampus tahun ajaran baru 2013-2014 secara resmi di mulai kembali. Hari pertama Robert menjadi mahasiswa tingkat dua. Kegiatan belajar mengajar belum begitu efektif karena masih perlu penyesuaian antara kelas dan mata kuliah di semester ini. Akan tetapi kampus sudah mulai ramai dengan tradisi tahunan penyambutan mahasiswa baru. Robert yang bukan bagian dari kepanitian penyambutan memilih menyingkir ke kantin dan menunggu kehadiran teman-temannya.

Hingga pukul 12.00 wib, hanya ada seorang teman yang datang menghampiri Robert. Ririn teman perempuan yang tak pernah menampakan kelembutan layaknya seorang perempuan;

Hai Bert…

 

“Hai Rin…

 

“Udah lama disini? Yang lain belum kelihatan yaa..

 

“Udah.. lumayan, dari jam 10…

“Iyaa.. Aku kira semua sudah di kampus, tapi belum ada..

“Habis dari mana aja kau?

 

“Itu.. dari depan, nontoni anak-anak baru..

           

“Gimana acaranya? Seru?

 

“Ah.. seru apanya..

“Garing, berantakan semua acara mereka..

“Kau ngapai lah disini, kedepan sana.. liat adek-adek..

“Mana tau dapat pacar..

 

“Apanya kau ini.. dapat pacar pulak kau bilang…

“Nanti aja, kalau mereka udah kena rendam baru bisa dipacari…

           

“Hahaha.. arogan sekali senior satu tingkat ini…

           

Robert langsung mengalihkan pembicaraan Ririn soal cari pacar.

“Udahlah, pesan minum mu… temani aku sampai yang lain datang..

Tak lama berselang setelah kedatangan Ririn di meja Robert, ternyata acara PMB memasuki waktu i-so-ma. Kantin yang tadinya sepi tiba-tiba dibanjiri orang-orang berpakaian putih-hitam. Muka mereka semua masih polos, kemana-mana dijagain panitia. Robert memperhatikan mereka semua, satu persatu yang memasuki pintu kantin, sambil begumam dalam hati.

Ah.. kok maju-maju kali..

“Masih hari pertama udah berani masuk kantin..

“Panitianya harus kena rendam ini..

“Bert.. kau lihat yang mana? Ahaha..

“Yang mana kau sor?

 

“Sor apaa?

“Palak aku yang ada…

“Kok maju-maju kali, hari pertama udah masuk kantin.

“Kita dulu pun nggak gini-gini kali..

 

“Udah jangan kau pikirin kali..

“Lain kita, lain mereka..

Dengan pandangan tajam Robert terus memperhatikan semua yang masuk. Ada yang mulai memesan makan, minuman, memesan rokok. Selama ini bagi seorang anak baru, merokok di dalam kantin masih dianggap hal yang tabu. Robert makin terbakar tapi hanya bisa menahankan emosinya, menghela nafas panjang..

Tapi kemudian suasana hati Robert yang tadinya terbakar emosi ditambah pengapnya kantin karena penuh sesak dengan orang-orang lapar berubah setelah ada satu sosok yang mencuri perhatiannya, Robert terperangah terpesona.

Ah.. ya Tuhan..

“Ini manusia atau bidadari?

….

Robert masih saja memperhatikannya, sosok itu berjalan semampai melintasi lantai depan mejanya.

Namun dengan sangat tiba-tiba; tidak ada angin, tidak ada hujan. Kancing baju Perempuan itu terlepas, membuat poisisi kerah bajunya terjuntai lebar. Perempuan berkerudung hitam itu pasti tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengannya. Robert yang melihat itu kemudian panik dan berusaha berpikir bagaimana caranya mengingatkan Perempuan itu.

“Astaga.. apa inii…

“Apa aku ngga salah lihat?..

….

Tidak ingin kondisinya semakin runyam karena perempuan itu jadi tontonan orang satu kantin, Robert mengingatkan perempuan itu melalui Ririn.

“Rin.. lihat kancing baju adek itu..

 

“Yang mana?

           

“Yang itu.. yang berdiri di depan steling makanan…

“Tolong lah kau ingatkan dia, kalau nanti banyak yang lihat pasti dia malu..

 

“Memang lah kau ini.. yauda tunggu bentar, aku ingatkan dia..

Ririn yang tampak keberatan dengan permintaan Robert itu kemudian bergerak menghampiri perempuan berkerudung hitam. Beruntungnya Ririn tidak senyeleneh yang dipikirkan Robert selama ini, Ririn tidak langsung bicara kepada Perempuan itu. Ririn menghampiri seorang anak baru yang berdiri tepat disebalah kiri Perempuan itu..

Dek.. ingatkan teman mu, kancing bajunya terbuka..

“Suruh dia pasang lagi, nanti kelihatan sama orang-orang.. 

Anak itu agak kaget dengan kehadiran Ririn yang seperti siluman, tiba-tiba ngoceh..

 

“Yang mana kak?

 

“Anak ini, sebelah kanan mu..

 

“Oh iya kak..

….

Meskipun ternyata mereka belum saling mengenali, solidaritas diantara anak baru memang selalu tumbuh tanpa mereka sadari. Anak itu langsung menyampaikan pesan peringatan yang diperolehnya kepada si perempuan berkerudung hitam. Dengan sigap ia memperbaiki kancing bajunya dan menyampaikan terimakasih.

“Heii.. itu kancing baju mu terlepas.. pasang lagi..

 

“Ehh iyaa.. makasih yaa..

           

“Aku tadi dikasih tahu sama kakak di meja itu..

….

Seketika Perempuan itu keheranan dan menoleh kemeja Robert dan Ririn. Robert yang saat itu berkesempatan melihat wajahnya tidak mau menyiakan kesempatan, Robert menebar senyum, lurus tepat 12 pass. Perempuan itu juga tersenyum, meskipun sebenarnya senyum itu entah ditujukan untuk siapa.

Atas kejadian siang itu Robert tidak bisa berhenti memikirkan perempuan berkerudung hitam. Robert gelisah dan nyaris seperti orang gila, yang dia pikirkan hanya perempuan itu.

Ah.. siapa Perempuan itu…

“Kenapa jadi terotak gini…

“Kemana ku cari tahu tentang dia..

“Ah! Dasar pengecut.. kenapa tadi ngga langsung kenalan aja..

Robert yang tidak bisa berhenti dihantui perempuan berkerudung hitam itu terus berusaha mencari cara untuk mengumpulkan informasi. Entah belajar dari mana Robert seolah punya kemampuan jadi seorang spionase. Kondisinya menjadi seperti perang antara Jerman dan USSR. Spionase adalah agen penting dalam perang, darinyalah semua informasi musuh terkait strategi perang bisa dibocorkan dan mereka juga paling banyak tereksekusi mati sebagai tawanan saat operasinya gagal.

Sekarang Robert benar-benar menjadi seorang spionase; “jika memang harus kalah, dan kau tak jadi milik ku setidaknya segala upaya sudah ku lakukan untuk bisa masuk menjangkau jantung hati mu”. Sebesar itu dampak perempuan berkerudung hitam tanpa nama itu di kepala Robert.

Aku harus mencari semua informasi tentang dia..

“Minimal namanya..

Robert mulai mengidentifikasi ciri-ciri targetnya.

….

“Perempuan, berbaju hitam putih, berkerudung hitam, berwajah putih..

“Lengannya tersemat pita biru, pertanda koloninya..

Robert melacak portal mahasiswa, pita biru adalah koenci!.

Dengan sangat sabar dan telaten Robert membuka satu persatu daftar nama di portal mahasiswa, masuk ke portal mahasiswa yang jurusannya disimbolkan dengan pita biru. Mahasiswa baru di jurusan itu ternyata memiliki jumlah terbanyak kedua di kampus, kurang lebih 180 orang. Memang tidak ada usaha yang sia-sia, Robert menemukan Perempuan itu di portal. Perempuan itu bernama Anissya Mentari dengan nomer induk mahasiswa 13091794 . Robert kegirangan, “akhirnya ketemu!”.

Tak butuh waktu lama Robert lantas mecopy-past nama Anissya di semua laman internet, mulai google, facebook, email, twitter. Sekarang setidaknya Robert sudah menumukan dua akun milik Anissya, di facebook dan twitter, dan pilihan selanjutnya hanyalah klik add and follow. Robert menyelsaikan misi pertamanya, hanya untuk melepas rasa penasaran yang begitu besar kepada Anissya.

Periode penjajakan…

Setelah melakukan hal konyol yang mungkin jarang dilakukan orang lain, Robert butuh waktu beberapa bulan untuk sekedar berani menulis kata “hai..” dikolom direct message twitter Anissya. Tidak ingin kalah dengan dirinya yang terus diolok-olok “pengecut”, Robert akhirnya memutuskan mengirim pesan itu.. “hai..” hanya menulis “hai..” dan berharap mendapat balasan. Robert beruntung Anissya mau membalas pesannya, seandainya tak terbalas baiknya dia belajar lagi cara komunikasi yang baik dan benar. “Iya? Ini siapa ya?”. Anissya ternyata melupakan Robert, mungkin juga memang tidak pernah merasa melihat dan mengenali Robert.

Dengan susah payah Robert mendeskripsikan dirinya kepada Anissya dan setelahnya mereka memutuskan memulai sebuah perkenalan di media sosial. Mulai dari direct messages twitter kemudian berlanjut ke room chating blackberry messenger. Robert yang masih penasaran dengan Anissya terus berusaha mencari celah, setiap malam Robert mencoba memulai pembicaraan. Mulai menyapa, mananyakan kabar, menanyakan kegiatan kesukaan, hinngga pertanyaan paling pamungkas; “Kamu sudah punya pacar?”

“Kalau udah emgnya kenapa?

“Kalau belum juga kenapa?

 

“Hmm.. gpp.. Cuma pengen tahu aja kok..

 

“ Aku udah punya pacar, anak departemen matematika.

 

“Ohh.. seorang lelaki jenius..

“Siapa namanya?

 

“Tobi..

Mulai dari situ hati Robert patah berkeping-keping. “Ternyata, sudah jadi kepunyaan orang lain”.

Robert terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

“Dia udah punya pacar. Jadi, apa sekrang aku harus berhenti?

Dengan berat hati Robert memutuskan berhenti untuk Anissya. Tidak lagi menghubungi untuk mengucapkan “hai..”, “apakabar?”, “lagi ngapain?”, dan “selamat tidur” lagi. Robert hanya bisa melihat Anissya dari kejauhan saat diantar jemput oleh Tobi pacarnya di depan kampus. Bahkan Robert kini hanya jadi penonton kemesraan mereka dibangku taman sebelah parkiran motor, dimana Robert sering memarkirkan motornya. Robert benar-benar hancur.

Ahh sialan..

“Kenapa harus pacaran disini..

“Apa ngga ada tempat yang lain.. Mereka pikir dunia cuma punya mereka?

Robert mulai membiasakan diri dengan pertunjukan itu, Robert mencoba tegar dan melupakan semua awal pertemuan yang aneh hanya karena terburainya kerah baju akibat kancing baju yang lepas dari lubangnya. Mungkin saja sajak Sapardi benar, bahwasanya; “Tuhan akan merawat semua yang kita kenal dan yang tidak akan pernah kita kenal”.

Periode satu pengulangan…

Robert memulai kembali hari-harinya menjadi seorang mahasiswa rantau, menempati kampus sebagai rumah. Masuk keruang-ruang perkuliahan, menghadiri undangan pertemuan, menghabiskan malam dalam rapat urat saraf, memenuhi jalanan kota dengan demonstrasi, hingga pertempuran adu jotos pun dialaminya. Robert si spionase patah hati;“Kota ini hanya diperuntukan untuk mereka yang punya tujuan, dan sekarang perempuan itu bukan lagi bagian dari tujuan ku. Semoga kau berbahagia dengan kekasih mu.” 

Dalam hitungan bulan dan mencapai satuan tahun Robert berhenti bicara soal perempuan. Yang ada dibenaknya hanya memimpikan hadir dalam sebuah rapat akbar dan lautan massa yang bersorak menuntut perubahan. Tapi mimpinya itu tak juga kunjung terwujud, sampai ia kelelahan sendiri mengucapkan dalil-dalil revolusi. Kelelahan itu kemudian menjadi sebab dan akibat dari batalnya pilihan mundur untuk tidak mengusik perempuan itu lagi. Bagaimana tidak, Anissya terlihat semakin ayu dan mengontrol Robert untuk tidak berpaling darinya.

Robert sangat labil untuk urusan perasaan, sekali lagi mengulangi usahanya, Robert yang pernah jatuh dan hancur jadi puing. Malam itu Robert mencoba berkompromi dengan hati kecilnya, mencoba memaafkan pilihannya yang pernah sekeras batu. “Ini saat yang tepat untuk datang, hanya untuk sekedar menanyakan kabar, aku kelelahan!”. Robert menghubungi Anissya lagi.

“Hai..

 

“Ya…

        

“Apakabar?

 

“Baik..

 

“Sekarang lagi sibuk apa?

 

“Ngga ada.. Cuma kuliah aja, kadang juga ngajar les..

 

“Ohh gituu..

 

“Kamu sendiri apakabar? Sehat? Lagi sibuk apa?

 

“Lumayan.. seperti yang kamu tahu selama ini aku sibuk apa..

Malam itu Robert dan Anissya masuk ke dalam satu babak baru, satu periode baru, sebuah keharmonisan yang selama ini belum pernah dirasakan Robert. Kondisi itu berlanjut hingga kurang lebih tiga bulan, dipertengahan tahun 2014. Robert yang keras kepala hanya tak tahan untuk merongrong perempuan itu dengan pertanyaan tentang pacarnya.

“Apakabar pacar mu?

“Dia ga marah kalau tau pacarnya chat sama orang lain gini?

 

“Ah gpp.. aku udah putus..

 

“Lohh.. putus? Sejak kapan?

 

“Udah tiga bulan…

           

“Aku baru denger…

Robert yang merasa sekarang punya celah merasa diatas angin, intensitas dan durasi komunikasi mereka semakin menjadi. Robert yang mengira memperoleh jawaban dari pengharapannya, ternyata salah dan dikelabuhi dengan obsesinya sendiri. Robert yang terlalu keras berfikir ternyata memiliki kelemahan emosional, terlalu cepat dihanyutkan perasaan yang akhirnya menyeret ia masuk kedalam pusaran konflik sepasang kekasih. Robert dituding telah menjadi perompak, pembajak kapal yang sedang berlayar di samudra dan membunuh nahkodanya.

….

Suatu hari Robert berangkat ke kampus dengan kendaraan umum, karena motornya bocor dan harus ditinggalkan di kost. Jadwal kuliah terlalu pagi untuk mencari tukang tambal ban. Hari itu Robert seperti biasa masuk keruang kelas, bertemu dengan teman-teman, hanya kurang mobile karna tidak membawa kendaraan pribadi. Robert kemudian menghubungi Ari alias Ampek, meminta jemputan untuk mengantarkanya pulang dan mengurusi motornya yang bocor.

“Halo pekk.. dimana?

           

“Ini lagi makan depan kampus FK.

 

“Sibuk ga? Aku mau minta tolong jemput aku di kampus.

‘Aku ngga bawa motor, tadi bocor aku tinggalin di kost”

 

“Oke.. bisaa.. bentar lagi aku meluncur kesana..”

 

“Oke pekk.. makasi yaa..

 

“Oke..

Berpikir si Ari akan segera menjemput, Robert berjalan keluar kampus. “Biar nggak sibuk nelfon-nelfon lagi mending ku tungguin aja di depan.”

Sembari berjalan, tiba-tiba Robert mendengar seorang lelaki berteriak-teriak.

“Robert…

“Robert… !! 

Kemudian Robert menyaut teriakan yang ia kira sebagai sapaan itu.. “eh Taufik.. Taufik adalah teman sekelas Robert.. Tapi ternyata itu bukan Taufik yang Robert maksud.. itu teriakan orang lain.. Hanya potongan badannya mirip dengan Taufik..

Lelaki itu terus berteriak, menguntit dibelakang perempuan yang ia kejar kemanapun pergi. Robert tak melihat wajah mereka.. karna posisi mereka memunggungi Robert. kemudian Robert makin terganggu, lelaki itu mulai menceracau semakin aneh.“Robert I love you.. Robert I love you..

Sontak Robert terkejut, ketika mengetahui perempuan dan lelaki yang berteriak-teriak itu adalah mereka. Anissya bertengkar dengan Tobi, lelaki yang kini adalah mantan pacarnya.

“Astaga.. itukan dia..

“Mereka kenapa ribut disini…

Robert telah menjadi bagian dari keributan itu, lelaki itu terus berteriak-teriak menyebut nama Robert. Robert merasa bersalah, tapi tidak ada cara lain selain menghindari keributan itu. Robert mundur dan masuk kedalam kampus lagi, karna si Ari juga tak kunjung datang menjemputnya. Robert menunggu kabar dari dalam kampus, tapi ternyata kejutan lain datang lagi. Anissya melintas masuk ke dalam kantin, Robert yang sudah tidak bisa berpikir mana yang benar-mana yang salah hanya ingin mengetahui apa yang tadi terjaadi di gerbang kampus. Robert membuntuti Anissya, dia membeli air mineral mungkin kehausan setelah bertengkar. “Aku harus tanya dia”.

Robert berdiri di sebalah kiri Anissya, tepat di depan etalase rokok dan Anissya di depan lemari es tempat minuman yang dibelinya. Dengan berhati-hati Robert memberanikan diri.

“Itu tadi kenapa di depan? Ada apa?

“Ehh.. gpp.. memang dia udah gila.. dia ngga terima aku putusin.. “Maaf yaa.. “Kemaren pacar ku dan teman-temannya udah mukulin dia.. tapi masih aja berani datang kesini bikin malu…

“Ohh.. gituu.. tapi kamu gpp kan?

“Gpp.. maaf yaa…

Pembicaraan singkat itu memaku Robert, diam dan membodoh. Terngiang kata-kata Anissya tentang pacarnya yang mukulin mantannya. “Ini siapa yang salah, aku ini diposisi yang mana?”. Sepanjang Anissya berjalan keluar dari kantin, Robert tak henti memperhatiakn jalannya. Dengan diam Robert terus menatap perempuan yang berjalan memunggunginya itu. Ternyata di depan pintu ada seorang lelaki lain yang menyambut kedatangannya, dan melihat sinis kepada Robert. “ohh itu.. jadi itu pacar barunya yang dia maksud..”

Sedangkan teman-teman Robert yang sempat memperhatikan percakapannya dengan Anissya mengiranya sedang sangat bahagia, bertemu dan bicara dengan perempuan special yang tidak pernah Robert lakukan.

“Bert… Jadi itu dia orangnya… hahaha.. 

“cantik juga ya…

 

“Ahh.. apa-apaan kalian ini…

Tak lama Robert juga langsung keluar dari kantin itu, menunggu jemputan Ari.

Ari akhirnya datang  dan mengantar Robert pulang. Tapi sesampainya di kost, Robert langsung menghubungi Anissya via telfon.

“Halo..

 

“Ya halloo.. “Ini siapa?

 

“Ini Robert

“Kamu lagi dimana sekarang?

 

“Lohh.. kenapa? Kaget tiba-tiba ditelpon gini..

“Lagi dirumah ni…

 

“Aku nelfon kamu cuma mau nanyai kejadian yang tadi, kalian kenapa?

 

“Maaf ya.. dia udah bikin malu.. dia ga terima aku putusin, dan dia ngelabrak aku..

 

“Lantas kenapa dia sebut-sebut nama ku?

 

“Ah.. ngga ada kok.. maaf yaa…

 

“Yaudahlah..

Robert hanya tidak paham dengan apa yang sudah terjadi, dia telah masuk dalam keributan itu tapi bukan jadi orang yang diuntungkan. “Anissya ternyata sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain dalam waktu yang bersamaan. Dengan dia, aku dan juga mantan pacarnya itu”. “Tapi kenapa mantannya sebegitu marahnya kepada ku sedangkan bukan aku yang menjadi penggantinya, atau aku ini sebenarnya diluar sekenario dan hanya menjadi penonton”. Kecewa atas perasaannya sendiri Robert kembali memutuskan mundur dan berhenti untuk Anissya. Robert tidak berhubungan lagi dengan Anissya kurang lebih tiga tahun, hingga di penghujung Robert menyelesaikan masa studinya di kampus.

Periode dua pengulangan…

Tahun ini adalah tahun ke lima Robert berada di kota yang katanya sangat keras, jika tak punya otot lengan yang keras setidaknya orang-orang harus punya urat leher yang keras untuk bisa bertahan dari intimidasi. Robert tidak lagi disibukan dengan jadwal dan tugas kuliah, aktifitas organisasi juga mulai berkurang, karena perlahan semua harus punya penggantinya. Tapi berbeda hal dengan isi hati si Robert, belum ada yang bisa menggantikan Anissya. Terkadang Robert masih saja memikirkannya, menyebutkan namanya, membicarakannya sebagai sebuah keagungan, padahal terkadang Robert juga sadar bahwa harapannya terhadap Anissya adalah kehampaan.

Seorang mahasiswa dalam kondisi normal diberikan waktu hingga tiga bulan untuk bisa maju ke seminar proposal tapi tidak demikian dengan Robert. Ia membutuhkan waktu lebih dari itu, nasib seorang pemuda yang tidak punya pendengar ya demikian. Robert menahan semua beban studinya sendirian, mengupayakan semua yang perlu dilakukan untuk segera menyelesaikan studi. Hubungan Robert dan Anissya sebenarnya sudah lama terkubur bersama diblokirnya semua akses untuk saling berkomunikasi sebagai teman. Robert tentunya memahami bahwa hal tersebut merupakan sebuah bentuk proteksi dari kekasih barunya. “lelaki mana yang rela, perempuannya bahagia bersama orang lain. Jikapun ada itu hanya dilirik lagu”.

Untuk kesekian kalinya, hari itu tanpa sengaja Robert melihat foto Anissya tampil di timeline jejaring media sosialnya. Diantara senang dan jengkel Robert bergumam;“Ohh.. udah di un-block ya”. Terkadang baik dan bodoh itu samar batasnya, Robert lantas segera memainkan cara lama nya yang sangat tradisional itu. Sifat tradisional sesorang memang sulit dihilangkan meski kecanggihan dunia telah hidup di kanan-kirinya. Hal pasti tampak dari kebiasaanya, tutur katanya, caranya menyampaikan pendapat, secara visual maupun audio. Singkatnya Robert yang langsung memulai percakapan. Lagi dan lagi pemuda ini kalah berkali-kali dan belum juga menyerah.

“Hai..

           

“Hallo..

 

“Apakabar?

           

“Baik, kamu gmana?

           

“Lagi kurang baik. Cara murahan lelaki minta perhatian.

 

“Loh.. kenapa kurang baik?

 

“Pusing.. belum bisa maju ke seminar proposal..

 

“Kenapa gitu? dosennya susah ditemui?

 

“Ngga, aku-nya aja yang susah ngerjainnya.

           

“Ya kalo ngga dikerjain kapan siapnya..

           

“Aku kerjain kok, cuma ya gitu.. lambat..

 

“Apa masalahnya?

 

“Masalahnya? ngga ada yang nyemangatin.. hahaha.. Emang dasar lelaki kurang perhatian.

 

“Yauda semangatlah ngerjain proposalnya… jangan sampai aku yang wisuda duluan.. ahaha…

 

“Ah.. mana bisa gitu.. ya aku lah yang wisuda duluan, aku yang masuk duluan..

 

“Buktiin aja..

Anissya sekarang menjadi tempat Robert mencurahkan keluh-kesahnya, menjadi pendengar yang baik, menjadi teman bicara yang responsif, tapi Robert masih dalam kebimbangan. Merasakan bahagia dan sakit atas dirinya sendiri, dan menjadi penyebab sakit orang lain. Sampai suatu ketika Robert kembali memberanikan diri sekali lagi mempertanyakan tentang keberadaan kekasihnya, sama seperti waktu yang lalu.

“Btw.. kenapa aku diblock dan sekarang di un-block?

“Pacar mu udah izin?

 

“Kenapa? Kamu marah ya?

“Aku minta maaf ya..

 

“Ngga, ngapain juga marah..

“Makanya aku sekarang nanya, pacar mu udah izin kamu un-block akun aku?

“Nanti dia cemburu, aku bisa jadi bahan pengeroyokan seperti mantan mu dulu..

 

“Udahlah ya.. aku minta maaf..

“Kami habis bertengkar hebat, aku mau break tapi dia ngga mau.

“Dan sekarang kami punya perjanjian..

 

“Walah.. udah kayak perdagangan internasional aja pake perjanjian…

 

“Dia terlalu over-protectif sama aku, aku dilarang punya temen cowok..

 

“Ya.. namanya aja dia pacar mu.. pasti begitulah..

 

“Tapi dia aku bebasin punya temen cewek.. aku ngga pernah marah..

“Sampai kami berantem hebat, aku cuma minta jangan dilarang berteman sama siapapun.

 

“Ohh.. jadi semua cowok yang dulu deketin kamu udah di un-block?

 

“Semua temen cowok yang mana, Cuma kamu aja kok..

 

“Cuma aku gimana?? Diposisi seperti ini posisi tawar seorang lelaki itu jatuh, seolah minta di sanjung.

 

“Iya cuma kamu aja, dia kan udah tahu kamu. Jadi aku cuma minta aku bisa bertemenan lagi sama kamu, karena kamu yang ada dari awal dan aku ngga pernah ngasi kesempatan kamu buat kenal aku. “Sekarang dia ngga punya alasan kalau harus marahin aku berhubungan sama kamu..

 

“Ohh jadi gitu..

“Aku masih diseret masuk dikeributan kalian

“Aku masih jadi bahan pertengkaran kalian?

 

“Bukan gitu.. tapi kan dia tau siapa kamu..

“dan dimata dia kita pernah ada hubungan..

Dalam hati Robert hanya bergumam; “Iyaa.. hubungan yang sekarang ngga ada awal dan akhirnya.”

….

 

“Lah.. terus kalau dia tahu kita pernah berhubungan? Lantas aku mau jadikan acaman paling menakutkan buat pacar mu itu?

 

“Bukan gitu.. aku cuma pengen bebas berteman sama siapapun, termasuk sama kamu.

Dengan kondisi yang seperti ini, Robert sempat berpikir kalau ini adalah memang takdir Tuhan yang maha membolak-balikan hati manusia, ini memang kesempatan untuk jadi bagian penting dari hidupnya (read: pacar). Jadilah Robert setan berwajah malaikat, yang menyarakan semua solusi terbaik untuk kebaikan hubungan mereka dan mengakhiri pertengkaran.“Sayang kalau mau putus. Hubungan kalian udah jalan lama. Baik-baiklah sama dia”.

Anissya jelas tidak ingin putus dengan kekasihnya, jika pun mereka putus pasti bukan Robert yang dia beri kesempatan. Namun pada akhirnya Robert menjalani hubungan tanpa status dengan Anissya, Robert merasa Anissya sepenuhnya sudah jadi tanggung jawabnya. Meskipun pada kenyataanya Anissya hanyalah sekedar teman. Apa yang mereka lakukan ini tentunya sebuah kesalahan dalam konsep relationship goals yang normal orang-orang pahami. Robert menjadi perebut kekasih orang, sedangkan Anissya bermain dengan dua lelaki yang sama-sama meletakan pengaharapan padanya.

Untuk sekedar bisa bertemu dan ngobrol secara langsung Robert dan Anissya sering sekali harus bersepakat merencanakan agenda pertemuan dengan sangat matang, Robert mengajak Anissya masuk dalam misi perangnya, menjadi spionase dan menyusup ke jantung pertahanan musuh. Robert dan Anissya kini bergerilya dalam perang yang mereka ciptakan sendiri. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu tentang kapan dan dimana mereka bertemu. Mereka saling mengkhawatirkan keselamatan satu sama lain, menyelinap dan bersembunyi, berbahagia dalam ketakutan. Robert sendiri sampai bingung harus melebeli dengan status apa hubungan celaka ini.

“Astaga.. ini hubungan apaa.. Teman Tapi Mesra? Hubungan Tanpa Status? Atau Friend zone?. Sekali lagi Robert ingin bicara mengenai finalitas, sebab dalam dirinya sendiri kondisi tersebut sangat mencoreng harga dirinya.

“Lanjutkan dengan status atau cukup, sudahi dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa.

….

“Apa maunya perempuan itu?

“Aku jahat sekali harus menjadi rengas atas rasa sakit orang lain..

“Aku tak tahan, Sudah waktunya aku bicara terus terang, apa yang ku inginkan darinya. Mungkin dengan begitu semua akan menjadi lebih baik..

 

Sampai pada waktu yang dianggap tepat, Robert mengutarakan semua hal yang ia rasakan atas keberlangsungan hubungan yang entah apa nama statusnya itu.

“Menurut kamu, gimana dengan hubungan kita sejauh ini?

“Kamu nyaman?

 

“Nyaman aja kok..

“Kenapa emangnya? Kamu nggak nyaman?

 

“Jujur aja aku nggak nyaman.

“Aku ngerasa bersalah udah sejauh ini.

“Aku suka sama kamu.

 

“Aku juga suka sama kamu..

 

“Suka gimana?

 

“Kamu baik, dan aku suka..

 

“Tapi..

 

“Tapi apa?.. Kamu kenapa?

 

“Tapi aku sebenarnya cinta sama kamu.. Aku mau kamu jadi pacar aku.

 

“Cinta? Kenapa bisa..

 

“Kenapa aku bisa cinta, aku juga ngga tau gimana ngejawabnya..“Yang pasti ini bukan hanya karena hubungan kita akhir-akhir ini, tapi sejak pertama aku lihat kamu.. Robert kemudian kembali menceritakan bagaimana ia pertama kali melihat Anissya dan kisah tentang kancing bajunya. Robert adalah orang yang mengirim perempuan yang memperingatkannya.

 

“Jujur aku ngga tau harus ngejawab apa.. kalo akhirnya seperti ini aku jadi ngerasa bersalah sama dua orang.. “Maaf ya.. aku ngga bisa kasih jawaban, kamu sendiri kan tahu kondisinya gimana, gimana hubungan aku ke dia..

 

“Ya.. aku ngerti kok.. kamu ngga bisa kasih jawaban dan kesempatan untuk aku..aku hanya ngga tau harus gimana dengan hubungan kita, sekarang mungkin baiknya kita udahin semuanya.. biar ngga ada lagi yang disakitin..

 

 “Jadi kamu mau kita udahan??

 

“Iyaa.. ternyata selama ini cuma perasaan ku aja yang berlebihan dan itu semua salah.

 

“Yauda kalau gitu.. aku minta maaf ya..

 

“Aku juga minta maaf udah terlalu berharap.. dan terimakasih buat semuanya. didalam hati Robert bergumam; “Ternyata aku ini hidup di era dimana defenisi suka dan cinta berbeda makna”.

Robert sekali lagi harus merasakan patah hati dan kekecewaan, dengan orang dan cara yang sama. Berulang kali, tapi tetap bangkit lagi. Pencarian Robert menyerupai penghukuman di neraka jahanam, dihancurkan, bangkit lagi, di hancurkan, bangkit lagi. Setelah pembicaraan yang sangat terus terang dan jelas itu semuanya kembali seperti semula, semua akses komunikasi ditutup lagi, tidak ada lagi yang saling menanyakan kabar. Sekuat hati Robert berusaha tidak lagi mencari Anissya, meskipun sebenarnya ia sangat rindu. Hanya ada ingatan yang menjadi kenang-kenangan di kepala Robert, tawa Anissya pernah merekah bersamanya disudut kedai kopi seberang kampus.

Terakhir, Robert sempat mengetahui kabar Anissya berhasil menyelesaikan studinya lebih cepat. Jadwal sidang meja hijau mereka hanya berselisih waktu satu minggu, namun hal itu tidak bisa membuat mereka bertemu di periode wisuda yang sama. Sebab Robert harus menunggu periode wisuda selanjutnya, sama seperti hatinya yang harus menunggu dan melakukan pencarian yang baru di periode-periode berikutnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s